Senin, 12 Mei 2008

Kidung Sabdo Palon Naya Genggong

SABDA PALON NAYA GENGGONG


Pupuh Sinom:


1). Pada sira ngelingana
Carita ing nguni-nguni
Kang kocap ing serat babad
Babad nagri Mojopahit
Naika duking nguni
Sang-a Brawijaya Prabu
Pan Samya pepanggihan
Kaliyan Njeng Sunan Kali
Sabda Palon Naya Genggong rencangira


Artinya:


Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam
buku babad tentang Negara Mojopahit, Waktu itu
Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan
Sunan Kalijaga didampingi oleh punakawannya yang
bernama Sabda Palon Naya Genggong.


2). Sang Prabu Brawijaya
Sabdanira arum manis
Nuntun dhateng punakwan
“Sabda palon paran karsi”
Jenengsun sapuniki
Wus ngrasuk agama Rosul
Heh ta kakang manira
Meluwa agama suci
Luwih becik iki agama kang mulya


Artinya:


Prabu Brawijaya berkata lemah-lembut kepada
punakawannya: “Sabda palon sekarang saya sudah
menjadi Islam. Bagaimanakah kamu. Lebih baik ikut
Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.


3). Sabda Palon matur sugal,
“Yen kawula boten arsi,
Ngrrasuka agama Islam
Wit kula puniki yekti
Ratuning Dang Hyang Jawi
Momong marang anak putu,
Sagung kang para Nata,
Kang jemeneng Tanah Jawi,
Wus pinasthi sayekti kula pisahan”.


Artinya:


Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tidak masuk Islam
Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dah
Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak
cucu serta para raja di tanah Jawa. Sudah digariskan
kita harus berpisah.


4). Klawan Paduka sang Nata,
Wangsul maring sunya ruri,
Nung kula matur petungna,
Ing benjang sakpungkur mami,
Yen wus prapta kang wanci,
Jangkep gangsal atus tahun,
Wit ing dinten punika,
Kula gantos kang agami,
Gama Budha kula sebar tanah Jawa.


Artinya:


Berpisah dengan Sang Prabu kembali keasal mula saya.
Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah
500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi,
saya sebar seluruh tanah Jawa.


5). Sinten tan purun nganggeya,
Yekti kula rusak sami,
Sun sajeken putu kula,
Berkasakan rupi-rupi,
Dereng lega kang ati,
Yen during lebur atempur,
Kula damel pratandha,
Pratandha tembayan mami,
Hardi Merapi yen wus rijeblug mili lahar.


Artinya:


Bila tidak ada yang mau memakai, akan saya
hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lainlainnya.
Belum legalah hati saya bila belum
saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda
akan datangnya kata-kata saya ini. Bila Gunung
Merapi meletus dan memuntahkan laharnya..


6). Ngidul ngilen purugina,
Ngganda banger ingkang warih,
Nggih punika medal kula,
Wus nyebar Agama Budi,
Merapi janji mami,
Anggereng jagad satuhu,
Karsanireng Jawata,
Sadaya gilir gumanti,
Boten kenging kalamunta kaowahan.


Artinya:


Lahar tesebut mengalir ke barat daya. Baunya
tidak sedap. Itulah pratanda kalau saya datang.
Sudah mulai menyebarkan agama Budha. Kelak
Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi
takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus
berganti. Tidak dapat bila dirubah lagi.


7). Sanget-sangeting sangsara,
Kan tuwuh ing tanah Jawi,
Sinengkalan tahunira,
Lawon Sapta Ngesthi Aji,
Upami nyabrang kali,
Prapta tengah-tengahipun,
Kaline bajir bandhang,
Jerone ngelebne jalmi,
Kathah sirna manungsa prapteng pralaya.


Artinya:


Kelak waktunya paling sengsara di tanah jawa ini pada
tahun: Lawon Sapta Ngesti Aji (1.878 atau 1.877).
Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang
ditengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar,
dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak
yang meninggal dunia.


8). Bebaya ingkang tumeka,
Warata sa Tanah Jawi,
Ginawe kang paring gesang,
Tan kenging dipun singgahi,
Wit ing donya puniki,
Wonten ing sakwasanipun,
Sadaya pra Jawata,
Kinarya amertandhani,
Jagad iki yekti anak akng akarya.


Artinya:


Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa.
Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri
lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut
sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang
membuatnya.


9). Warna-warna kang bebaya,
Angrusaken Tanah Jawa,
Sagung tiyang nambut karya,
Pamedal boten nyekapi,
Priyayi keh beranti,
Sudagar tuna sadarum,
Wong glidhik ora mingsra,
Wong tani ora nyukupi,
Pametune akeh serna aneng wana,


Artinya:


Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa
rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi.
Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar
selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak
seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya
banyak yang hilang di hutan.


10). Bumi ilang berkatira,
Ama kathah ingkang ilang,
Cinolong dening sujanmi,
Pan sisaknya nglangkungi,
Karana rebut rinebut,
Risak tetaning janma,
Yen dalu grimis keh maling,
Yen rina-wa kathah tetiyang ambegal.


Artinya:


Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang
menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri.
Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan.
Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis
banyak maling tetapi bila siang hari banyak begal.


11). Heru hara sakeh janma,
Rebutan ngupaya bukti,
Tan ngetang angering praja,
Tan tahan perihing ati,
Katungka praptaneki,
Pageblug ingkang linangkung,
Lelara ngambra-ambra.
Waradin saktanah Jawi,
Enjing sakit sorenya sampun pralaya.


Artinya:


Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan
mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan
Negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya
perut. Hal tersebut masih berjalan disusul datangnya
musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar
merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya
telah meninggal dunia.


12). Kasandung wohing pralaya,
Kaselak banjir ngemasi,
Udan barat salah mangsa,
Angin gung anggegirisi,
Kayu gung brasta sami,
Tinempuhing angina angun,
Katah rebah amblasah,
Lepen-lepen samya banjir,
Lamun tinon pan kados samodra bena.


Artinya:


Bahaya penyakit luar biasa. Disana-sini banyak
orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin
besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh
semuanya. Sungai meluap banjir, sehingga bila
dilihat persis lautan pasang.


13). Alun minggah ing daratan,
Karya rusak tepis wiring,
Kang dumunung kering kanan,
Kajeng akeh ingkang keli,
Kang tumuwuh apinggir,
Samya kentir trusing laut,
Sela geng sami brasta,
Kabalebeg katut keli,
Gumalundhung gumludhug suwaranira.


Artinya:


Seperti lautan meluap arinya naik ke daratan.
Merusakkan kanan kiri, Kayu-kayu banyak yang
hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa
sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut
dengan bergemuruh suaranya.


14). Hardi agung-agung samya,
Huru-hara nggeririsi,
Gumleger suwaranira,
Lahar wutah kanan kering,
Ambleber angelelebi,
Nrajang wana lan desagung,
Manugsanya keh brasta,
Kebo sapi samya gusis,
Surna gempang tan wenten mangga puliha.


Artinya:


Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan.
Lahar meluap kekanan serta kekiri sehingga
menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak
yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis
sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal
sedikitpun.


15). Lindu ping pitu sedina,
Karya sisahing sujanmi,
Sitinipun samya nela,
Brekasakan kang ngelesi,
Anyeret sagung janmi,
Manungsa pating galuruh,
Kathah kang nandhang roga,
Warna-warni ingkang sakit,
Awis waras akeh kang praptng pralaya,


Artinya:


Gempa bumi 7 kali sehari, sehingga membuat
susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah
brekasakan yang menyeret manusia masuk ke
dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sanasini,
banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa.
Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan
mereka meninggal dunia.


16). Sabda Palon nulya mukswa,
Sakedhap boten kaeksi,
Wangsul ing jaman limunan,
Langkung ngungun Sri Bupati,
Njegreg tan bisa angling,
Ing manah langkung gegetun,
Keduwung lepatira,
Mupus karsaning Dewadi,
Kodrat itu sayekti tan kena owah.


Artinya:


Demikian kata-kata Sabda Palon yang segera
menghilang sebentar tidak tampak lagi dirinya. Kembali
ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama
sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali
dan merasa salah. Namun bagaimana lagi segala itu
sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin dirobah
lagi.
-------


Kidung Pupuh Sinom ini masih sering dinyajikan bahkan
diyakini di tanah Jawa maupun di tanah Bali.
Apakah menceritakan suatu kejadian yang pernah
terjadi atau suatu janji yang sedang ditunggu?

Jumat, 11 April 2008

Kidung-kidung Bali


1. Merdukomala

Om sembah ninganatha Tingalana detri loka saranaWahyadiatmika sembah inghulunIjeng tetan hana wanehSang lwir agni saking tahenKadi minyak saking dadi kitaSang saksat metu yan hana wong amuter tutur pinahayu

artinya:


Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina silahkan lihat oleh-Mu penguasa tiga dunia, lahir bathin sembah hamba ke hadapan duh paduka tiada lain, Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari Santan, demikianlah Engkau, Engkau seakan-akan nyata berwujud apabila ada orang menjalankan ilmu bathin dengan baik.

Wyapi wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita, icchanta ng hana tan hana ganalalit lawan halahayu, utpatti sthitit linaning dadhi kitata karananika, sang sangkan paraning sarat sakala niskalatmaka kita.

artinya:


Engkau berada di mana-mana intisari dari kebenaran mutlak dan gaib, karunia-Mu menciptakan, dan melebur segala yang ada besar maupun kecil dan baik buruknya. Lahir hidup matinya segala mahluk Engkaulah sumbernya. Engkau merupakan sumber serta tujuan isi dunia nyata dan gaib wujudMu.

2. Mandamalon

Stuti Nira tan tulus sinahuran paramartha Ciwaanaku huwus katon abhimatanta temunta kabehhana panganugrahangku Caducakti winibasaraPacupati castra kastu pangaranya nihan wulati.

artinya:



Sebelum Sang Arjuna selesai memuja, Hyang Ciwa segera menjawab, Ananda ternyata telah berhasil menemukan segela kehendakmu, ada anugerahku CaduCakti (empat kekuatan) dalam bentuk senjata, panah Pacupati ini namanya sudah terkenal, lihatlah.

3. Suandewi

Mamwit Narendratmaja ring tapowana, manganjali ryagraning Indra parwata, tan wismrti sangkanikang hayun teka, swabhawa sang sajjana rakwa mangkana.

artinya:



Sang arjuna kemudian meninggalkan hutan pertapaan itu, lalu menyembah ke puncak gunung Indrakila, Beliau selalu ingat bahwa anugrah itu datang dari arah itu, perilaku orang bijaksana seharusnyalah demikian.

Rabu, 09 April 2008

Kidung-kidung Jawa

01. Dhandanggula

Jroning nampa pepesthen puniki
Wajibira mung nuhoni dharma
Apan wus dadi kodrate
Lelaku jro lumakuTiti tata tatag ing batin
Nggayuh yuning bebrayanlahir trusing kalbu
Mula lumaku makarya
Antepira sepi pamrih lahir bathin
Makarya tan akarya

artinya:


Didalam kita menjalani hidup ini, sesuai dengan kodratnya kita hanya nuhoni dharma, melaksanakan kewajiban sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia karena itu dalam setiap perbuatan kita harus menyadari untuk bekerja dan bekerja tanpa pamrih, bisa diupamakan makaryo tan akaryo artinya kita berbuat sesuatu tetapi kita tidak merasa membuat sesuatu yang kita harapkan hasilnya, orang jawa mengatakan sepi pamrih rame gawe.

02. Dhandhanggula

Sakehing kan dumadi makardi Lir Hyang Widhi kan tansah makarya
Nguribi jagad tan lerenSurya, candra lan bayu
Bhumi tirta kalawan agni
Paparing panguripan
Mring pamrih wus mungkur
Anane nuhoni dharma
Iku dadya "sastra cetha" tanpa tulis
Nulat lakuning alam.

artinya:

Semua yang ada ini bekerja, bahkan Tuhan pun bekerja menghidupi dunia ini tanpa henti Matahari, bulan, angin, Bumi, air dan api semua bekerja demi kelangsungan hidup, dan tanpa pamrih. Dasarnya hanyalah merasa wajib. Alam adalah "ilmu nyata". Kita wajib meniru dharmanya.

03. Asmarandana

Samankya hamba udani
Mring tatwa jatining Atmatan beda Sang Hyang Widhine
Jro gesang mapan ing raga
Nyandhang sarwa sangsara
Mung paduka Yang Maha Gung
Pangruwating papa nistha.

artinya:

Kini aku benar-benar mengetahui tentang kesejatian Atma yang tak berbeda denganMu. Tuhan selagi hidup tinggal di jasmani ini yang ada adalah derita. Hanya paduka ya Tuhan yang mampu membebaskan derita ini.

04. Asmarandana

Tatwa jatine Sang Hurip Yekti sunare Kang Kwasa
Ing raga muhung samangen
Raga maujud ing donya
Dumadi nuju tuwa
Wekasan rusak lan lampus
Parane bali sangkanya.

artinya:

Wahai Sang Hidup sejati, Engkaulah sinar Sang Kuasa. Di badan ini hanyalah tempat jasmani yang senantiasa "menjadi" "menjadi" terus menuju tua hingga akhirnya rusak dan mati Kembali ke asal muasal.

05. Pangkur

Ajining wong ing wicara
resep sedep wijile rum aririh
wosing sedya laras runtut
grapyak gampang tinampa
culing tutur tinampa datan ngelantur
Solah bawa mung samadya
Karyenak tyasing sasami.

artinya:

Nilai manusia ditentukan bicaranya, enak didengar sedap dan tidak keras, maksudnya jelas dan keluar teratur, akrab dan gampang diterima, kata-kata baik dan tak berkepanjangan, sikap dan gaya cukup seperlunya, membuat senang siapapun.

06. Pangkur

Jejege janma ing nala
pikir resik rereged den ilangi
tindak tanduk ywa kumrungsung
nyenyamah nyakrabawa
apan iku karana tyas kumalungkung
ngagungken diri priyangga
adhakan ndeder bilahi.

artinya:

Kewibawaan orang karena pikiran, berpikir baik tanpa kekotoran, berbuat jangan terdorong kemarahan, jangan mengecilkan dan mencurigai orang hanya karena Rasa Sombong dan merasa diri lebih "tinggi", itu ibarat menanam benih celaka.

07. Sinom

Dhuh pra mitra kawruhana
jatine sagung kang keksi
tan beda sira lan ingwang
kawengku kuasaning urip
kang anyipta sakalir
mula sira iku ingsun
tan ana dudu mitra
ywa kongsi kalimput lali
kawruhana lahir batine tyasira.

artinya:

Wahai mitraku, ketahuilah bahwa segala yang ada ini tak berbeda, engkau dan aku semua dalam kekuasaan sang hidup yang mencipta, semua ada karena itu engkau adalah aku, tak ada yang bukan "mitra", itu jangan engkau lupakan, kini cobalah "mawas diri".

08. Sinom

Lali yen sireku ingwang
Dudu patrape kang jati
Mung hardaning nafsunira
Ambuntel nutupi batin
lali marang kang jati
Kasurung kareping nafsu
Cengkah lan Caking dharma
memitran amung lelamis
Singkirana yen ngudi yuning buwana.

artinya:

Lupa bahwa "Engkau itu Aku", bukan perbuatan yang seharusnya. Itu hanya kehendak nafsumu. Bagai selimut menutupi batin, lupa pada "yang sebenarnya". Terdorong kehendak nafsu hingga berlawanan dengan dharma. Kemitraan sekedar lamis. Hindarilah, biar dunia ini "rahayu".

09. Mijil

Wijiling kang wacana winarni
Rumpakaning Raos
Dadya tutur lir tirta iline
Mijil saking tuk telenging bumi
Mili amratani
Mrabawa bisa wruh.

artinya:

Kusampaikan berbagai ajaran yang tersusun rapi di hati ini. Biarkan mengalir bagai air yang keluar dari dasar bumi. Biar menjadi nasehat yang berarti. Membuat orang mengerti.

10. Mijil

Lamun sira nggegulang agami
Werdinen den bontos
Ywa kasengsem katrem ing ilmune
Upacara lan susilaneki
Kudu den lakoni
Kanthi setya tuhu.

artinya:

Bila engkau mempelajari agama, pelajarilah secara mendalam. Jangan hanya menyenangi ilmunya. Upacara dan ajaran kesusilaannya juga wajib kau jalankan dengan sepenuh hati.

11. Pucung

Janma Agung
Tan manggon ing pangkatipun
Miwah raja brana
Gumantung aneng pakarti
Jro laksana angagungken kamanungsan.

artinya:

Orang besar bukan karena pangkatnya, bukan karena kekayaanya. Ditentukan oleh perbuatannya. Ia personifikasi kemanusiaan.

12. Gambuh

Wruhana raga pun iku
dumadine saka alam telu
Alam wadag, alam jiwa dan atmaneki
Openan kanthi laku
Lakune ngeningken batos.

artinya:

Kini ketahuilah bahwa manusia itu terdiri dari 3 alam. Alam wadah atau jasmani, alam jiwa atau rohani, dan alam atman yang maha suci. Ketiganya harus kita pelihara dengan baik. Dan caranya hanya dengan mengheningkan hati kita sendiri.

13. Gambuh

Carane ana telu
Tarak Brata, Tapa Brata iku
Puja Brata iku laku kabeng katri
Telu lakonono Runtut
Dimen Tinampa Hyang manon.

artinya:

Caranya ada tiga. Yaitu tarak broto untuk jasmani kurangilah makan, tidur dan mengendalikan panca indera. Topo Broto, Rohani kendalikanlah hawa nafsu. Dan puja broto melaksanakan konsentrasi sepenuhnya dengan cara meditasi; ketiga-tiganya harus dijalankan secara bersama-sama .

14. Maskumambang

Ida Ratu
Paduka kang Sanggeng Langit
Mugi priksanana
Hamba ngaturken pejati
Canang sari lan daksina.

artinya:

Ya Tuhan Engkau yang turun dari langit, perhatikanlah hamba untuk saat ini. Hamba menghaturkan pejati canang Sari dan Daksina.

15. Maskumambang

Banten suci Sadaya pan
Sanpun prabi
Nyimbrama Paduka
Ingayab Dewa lan Dewi
Murub mincar cahyanira.

artinya:

Semua Banten Suci sekarang telah tertata, semogalah engkau datang ya Tuhanku. Dan kami menyembrama paduka Yang teriring oleh dewa dan dewi dalam cahaya kegelapan yang turun dari langit.

16. Kinanthi

Mung tiga sarananipun
Dupa sekar lawan warih
Mangambar gandaning dupa
Kumelun mumbul wiyati
Binarung manunggalingtyas
Ngagungken Asmaning Gusti.

artinya:

Hanya tiga sarana sembahyang, Dupa (api), kembang dan air. Bila keharuman mulai menyebar oleh asap dupa menuju langit. Mulai endapkan batin - jiwamu. Dan agungkanlah namaNYA.

17. Kinanthi

Mung tiga patrap kang baku
Asana patrap kang dihin
Pranayama unjal uswa
Nulya asta manganjali
Anyebut mantram Tri Sandya
Manembah mring Sang Hyang Widhi.

artinya:

Ada tiga sikap pokok sembahyang; ASANA sikap badan yang baik, Pranayama pengaturan nafas, kemudian sikap tangan manganjali. Mulailah mengucapkan Tri Sandya menyembah Hyang Widhi Wasa.