Jumat, 11 April 2008

Kidung-kidung Bali


1. Merdukomala

Om sembah ninganatha Tingalana detri loka saranaWahyadiatmika sembah inghulunIjeng tetan hana wanehSang lwir agni saking tahenKadi minyak saking dadi kitaSang saksat metu yan hana wong amuter tutur pinahayu

artinya:


Ya Tuhan sembah hamba ini orang hina silahkan lihat oleh-Mu penguasa tiga dunia, lahir bathin sembah hamba ke hadapan duh paduka tiada lain, Engkau bagaikan api yang keluar dari kayu kering, bagaikan minyak yang keluar dari Santan, demikianlah Engkau, Engkau seakan-akan nyata berwujud apabila ada orang menjalankan ilmu bathin dengan baik.

Wyapi wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita, icchanta ng hana tan hana ganalalit lawan halahayu, utpatti sthitit linaning dadhi kitata karananika, sang sangkan paraning sarat sakala niskalatmaka kita.

artinya:


Engkau berada di mana-mana intisari dari kebenaran mutlak dan gaib, karunia-Mu menciptakan, dan melebur segala yang ada besar maupun kecil dan baik buruknya. Lahir hidup matinya segala mahluk Engkaulah sumbernya. Engkau merupakan sumber serta tujuan isi dunia nyata dan gaib wujudMu.

2. Mandamalon

Stuti Nira tan tulus sinahuran paramartha Ciwaanaku huwus katon abhimatanta temunta kabehhana panganugrahangku Caducakti winibasaraPacupati castra kastu pangaranya nihan wulati.

artinya:



Sebelum Sang Arjuna selesai memuja, Hyang Ciwa segera menjawab, Ananda ternyata telah berhasil menemukan segela kehendakmu, ada anugerahku CaduCakti (empat kekuatan) dalam bentuk senjata, panah Pacupati ini namanya sudah terkenal, lihatlah.

3. Suandewi

Mamwit Narendratmaja ring tapowana, manganjali ryagraning Indra parwata, tan wismrti sangkanikang hayun teka, swabhawa sang sajjana rakwa mangkana.

artinya:



Sang arjuna kemudian meninggalkan hutan pertapaan itu, lalu menyembah ke puncak gunung Indrakila, Beliau selalu ingat bahwa anugrah itu datang dari arah itu, perilaku orang bijaksana seharusnyalah demikian.

Rabu, 09 April 2008

Kidung-kidung Jawa

01. Dhandanggula

Jroning nampa pepesthen puniki
Wajibira mung nuhoni dharma
Apan wus dadi kodrate
Lelaku jro lumakuTiti tata tatag ing batin
Nggayuh yuning bebrayanlahir trusing kalbu
Mula lumaku makarya
Antepira sepi pamrih lahir bathin
Makarya tan akarya

artinya:


Didalam kita menjalani hidup ini, sesuai dengan kodratnya kita hanya nuhoni dharma, melaksanakan kewajiban sesuai dengan kodrat kita sebagai manusia karena itu dalam setiap perbuatan kita harus menyadari untuk bekerja dan bekerja tanpa pamrih, bisa diupamakan makaryo tan akaryo artinya kita berbuat sesuatu tetapi kita tidak merasa membuat sesuatu yang kita harapkan hasilnya, orang jawa mengatakan sepi pamrih rame gawe.

02. Dhandhanggula

Sakehing kan dumadi makardi Lir Hyang Widhi kan tansah makarya
Nguribi jagad tan lerenSurya, candra lan bayu
Bhumi tirta kalawan agni
Paparing panguripan
Mring pamrih wus mungkur
Anane nuhoni dharma
Iku dadya "sastra cetha" tanpa tulis
Nulat lakuning alam.

artinya:

Semua yang ada ini bekerja, bahkan Tuhan pun bekerja menghidupi dunia ini tanpa henti Matahari, bulan, angin, Bumi, air dan api semua bekerja demi kelangsungan hidup, dan tanpa pamrih. Dasarnya hanyalah merasa wajib. Alam adalah "ilmu nyata". Kita wajib meniru dharmanya.

03. Asmarandana

Samankya hamba udani
Mring tatwa jatining Atmatan beda Sang Hyang Widhine
Jro gesang mapan ing raga
Nyandhang sarwa sangsara
Mung paduka Yang Maha Gung
Pangruwating papa nistha.

artinya:

Kini aku benar-benar mengetahui tentang kesejatian Atma yang tak berbeda denganMu. Tuhan selagi hidup tinggal di jasmani ini yang ada adalah derita. Hanya paduka ya Tuhan yang mampu membebaskan derita ini.

04. Asmarandana

Tatwa jatine Sang Hurip Yekti sunare Kang Kwasa
Ing raga muhung samangen
Raga maujud ing donya
Dumadi nuju tuwa
Wekasan rusak lan lampus
Parane bali sangkanya.

artinya:

Wahai Sang Hidup sejati, Engkaulah sinar Sang Kuasa. Di badan ini hanyalah tempat jasmani yang senantiasa "menjadi" "menjadi" terus menuju tua hingga akhirnya rusak dan mati Kembali ke asal muasal.

05. Pangkur

Ajining wong ing wicara
resep sedep wijile rum aririh
wosing sedya laras runtut
grapyak gampang tinampa
culing tutur tinampa datan ngelantur
Solah bawa mung samadya
Karyenak tyasing sasami.

artinya:

Nilai manusia ditentukan bicaranya, enak didengar sedap dan tidak keras, maksudnya jelas dan keluar teratur, akrab dan gampang diterima, kata-kata baik dan tak berkepanjangan, sikap dan gaya cukup seperlunya, membuat senang siapapun.

06. Pangkur

Jejege janma ing nala
pikir resik rereged den ilangi
tindak tanduk ywa kumrungsung
nyenyamah nyakrabawa
apan iku karana tyas kumalungkung
ngagungken diri priyangga
adhakan ndeder bilahi.

artinya:

Kewibawaan orang karena pikiran, berpikir baik tanpa kekotoran, berbuat jangan terdorong kemarahan, jangan mengecilkan dan mencurigai orang hanya karena Rasa Sombong dan merasa diri lebih "tinggi", itu ibarat menanam benih celaka.

07. Sinom

Dhuh pra mitra kawruhana
jatine sagung kang keksi
tan beda sira lan ingwang
kawengku kuasaning urip
kang anyipta sakalir
mula sira iku ingsun
tan ana dudu mitra
ywa kongsi kalimput lali
kawruhana lahir batine tyasira.

artinya:

Wahai mitraku, ketahuilah bahwa segala yang ada ini tak berbeda, engkau dan aku semua dalam kekuasaan sang hidup yang mencipta, semua ada karena itu engkau adalah aku, tak ada yang bukan "mitra", itu jangan engkau lupakan, kini cobalah "mawas diri".

08. Sinom

Lali yen sireku ingwang
Dudu patrape kang jati
Mung hardaning nafsunira
Ambuntel nutupi batin
lali marang kang jati
Kasurung kareping nafsu
Cengkah lan Caking dharma
memitran amung lelamis
Singkirana yen ngudi yuning buwana.

artinya:

Lupa bahwa "Engkau itu Aku", bukan perbuatan yang seharusnya. Itu hanya kehendak nafsumu. Bagai selimut menutupi batin, lupa pada "yang sebenarnya". Terdorong kehendak nafsu hingga berlawanan dengan dharma. Kemitraan sekedar lamis. Hindarilah, biar dunia ini "rahayu".

09. Mijil

Wijiling kang wacana winarni
Rumpakaning Raos
Dadya tutur lir tirta iline
Mijil saking tuk telenging bumi
Mili amratani
Mrabawa bisa wruh.

artinya:

Kusampaikan berbagai ajaran yang tersusun rapi di hati ini. Biarkan mengalir bagai air yang keluar dari dasar bumi. Biar menjadi nasehat yang berarti. Membuat orang mengerti.

10. Mijil

Lamun sira nggegulang agami
Werdinen den bontos
Ywa kasengsem katrem ing ilmune
Upacara lan susilaneki
Kudu den lakoni
Kanthi setya tuhu.

artinya:

Bila engkau mempelajari agama, pelajarilah secara mendalam. Jangan hanya menyenangi ilmunya. Upacara dan ajaran kesusilaannya juga wajib kau jalankan dengan sepenuh hati.

11. Pucung

Janma Agung
Tan manggon ing pangkatipun
Miwah raja brana
Gumantung aneng pakarti
Jro laksana angagungken kamanungsan.

artinya:

Orang besar bukan karena pangkatnya, bukan karena kekayaanya. Ditentukan oleh perbuatannya. Ia personifikasi kemanusiaan.

12. Gambuh

Wruhana raga pun iku
dumadine saka alam telu
Alam wadag, alam jiwa dan atmaneki
Openan kanthi laku
Lakune ngeningken batos.

artinya:

Kini ketahuilah bahwa manusia itu terdiri dari 3 alam. Alam wadah atau jasmani, alam jiwa atau rohani, dan alam atman yang maha suci. Ketiganya harus kita pelihara dengan baik. Dan caranya hanya dengan mengheningkan hati kita sendiri.

13. Gambuh

Carane ana telu
Tarak Brata, Tapa Brata iku
Puja Brata iku laku kabeng katri
Telu lakonono Runtut
Dimen Tinampa Hyang manon.

artinya:

Caranya ada tiga. Yaitu tarak broto untuk jasmani kurangilah makan, tidur dan mengendalikan panca indera. Topo Broto, Rohani kendalikanlah hawa nafsu. Dan puja broto melaksanakan konsentrasi sepenuhnya dengan cara meditasi; ketiga-tiganya harus dijalankan secara bersama-sama .

14. Maskumambang

Ida Ratu
Paduka kang Sanggeng Langit
Mugi priksanana
Hamba ngaturken pejati
Canang sari lan daksina.

artinya:

Ya Tuhan Engkau yang turun dari langit, perhatikanlah hamba untuk saat ini. Hamba menghaturkan pejati canang Sari dan Daksina.

15. Maskumambang

Banten suci Sadaya pan
Sanpun prabi
Nyimbrama Paduka
Ingayab Dewa lan Dewi
Murub mincar cahyanira.

artinya:

Semua Banten Suci sekarang telah tertata, semogalah engkau datang ya Tuhanku. Dan kami menyembrama paduka Yang teriring oleh dewa dan dewi dalam cahaya kegelapan yang turun dari langit.

16. Kinanthi

Mung tiga sarananipun
Dupa sekar lawan warih
Mangambar gandaning dupa
Kumelun mumbul wiyati
Binarung manunggalingtyas
Ngagungken Asmaning Gusti.

artinya:

Hanya tiga sarana sembahyang, Dupa (api), kembang dan air. Bila keharuman mulai menyebar oleh asap dupa menuju langit. Mulai endapkan batin - jiwamu. Dan agungkanlah namaNYA.

17. Kinanthi

Mung tiga patrap kang baku
Asana patrap kang dihin
Pranayama unjal uswa
Nulya asta manganjali
Anyebut mantram Tri Sandya
Manembah mring Sang Hyang Widhi.

artinya:

Ada tiga sikap pokok sembahyang; ASANA sikap badan yang baik, Pranayama pengaturan nafas, kemudian sikap tangan manganjali. Mulailah mengucapkan Tri Sandya menyembah Hyang Widhi Wasa.